Ulama, Wartawan, dan Pewaris Rasul

SAYA pernah berkesempatan melakukan penelusuran jejak-jejak ulama di Sulawesi Selatan (Sulsel), bersama salah seorang pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Makassar, Ust. Firdaus Muhammad.  Pada setiap kabupaten dan kota di daerah berpenghuni lebih 7,4 juta muslim  ini atau sekitar 90 persen dari populasi penduduknya (BPS, 2015) masing-masing memiliki ulama-ulama kharismatik dan berpengaruh.


Kiprah ulama Sulsel sangat diperhitungkan, tidak hanya pada tataran lokal dan regional, juga di tingkat nasional dan dunia. Sebut misalnya, Ust. Muhammad Syamsi Ali, ulama kelahiran Bulukumba yang saat ini menjadi Imam Besar di Islamic Center of New York, AS. Ada pula KH Nasaruddin Umar, ulama kelahiran Bone yang dipercaya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal di Ibukota Jakarta.


Kita juga masyhur dengan ulama cendekiawan KH. Quraish Shihab, ulama kelahiran Sidrap yang sangat diperhitungkan sebagai ahli tafsir. Begitupun dengan KH Ali Yafie merupakan ulama kharismatik Sulsel yang berkiprah dalam kancah nasional, mantan Ketua MUI Pusat, dan masih sangat banyak ulama Sulsel yang sangat dihormati dan disegani.


Bukan baru sekarang, sejak dulu ulama Sulsel selalu punya peran strategis di kancah nasional. Apatah  lagi, mereka yang berkiprah mencerahkan umat di daerah sendiri. Salah satunya, Anregurutta KH. Yunus Martan, seorang ulama pembaharu Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo.


Di tangan anregurutta, wajah Pesantren As’adiyah mengalami banyak perubahan. Beliau tampil menjadi pioner pembaharuan, dengan sejumlah gagasannya yang visioner. Gebrakan pembaharuannya antara lain, membuka berbagai tingkat pendidikan As’adiyah, mulai dari Taman Kanak-kanak, Tsanawiyah, Aliyah, Pendidikan Guru Agama, hingga Perguruan Tinggi Islam As’adiyah.


Anregurutta KH. Yunus Martan yang lahir 29 Muharram 1332 H (1914 M) juga melakukan pembaharuan kurikulum pendidikan pesantren, yang menekankan bahwa santri tidak hanya harus menguasai kitab kuning atau pengetahuan agama saja, tetapi juga harus menguasai pengetahuan umum. Beliau merupakan sosok ulama, yang menunjukkan teladan kedisplinan super tinggi,


Pada 13 September 1968, Anregurutta KH. Yunus Martan membuat lompatan tinggi dengan mendirikan radio amatir (radam), sebuah keputusan yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Pada masa itu, pendirian radio tentu masih menjadi barang langka. Bukan sekadar mendirikan, namun Anregurutta sangat aktif mempromosikannya sendiri ke berbagai daerah. Dengan radio yang dibangunnya, ceramah-ceramah Anregurutta KH. Yunus Martan dan ulama lainnya menggaung hingga ke pelosok-pelosok wilayah terpencil. Tidak hanya di Kabupaten Wajo, akan tetapi sampai ke kabupaten sekitarnya, seperti Bone, Soppeng, Pinrang dan Sidrap.


Bisa dikatakan Anregurutta KH. Yunus Martan bukan sekadar ulama pembaharu, melainkan juga seorang broadcaster brilian. Broadcaster adalah julukan bagi mereka yang berkiprah di dunia broadcasting (penyiaran), baik televisi dan radio. Bisa seorang wartawan, penyiar, dan penyelenggara siaran lainnya. Sampai saat ini, radio yang didirikan Anregurutta KH. Yunus Martan masih eksis, yang kita kenal sebagai Radio Suara As’Adiyah.


Kemana-mena berceramah, Anregurutta KH. Yunus Martan selalu membawa pesawat radio kecil ke atas mimbar, kemudian menjelaskan tutorial cara menyetel radio. Sebuah teladan totalitas, kesungguhan dan tanggung jawab. Usaha Anregurutta membuahkan hasil. Akhirnya, hampir seluruh masjid- masjid di Wajo, Bone, Soppeng, dan Sidrap dan sekitarnya, merelai Radio Suara As’adiyah, mulai salawattahrim, ceramah, serta dipancarluaskan melalui pengeras suara masjid. Lebih-lebih di bulan puasa, semua warga menyetel Radio Suara As’adiyah sebagai panduan waktu berbuka puasa maupun saat sahur.


Usaha yang gigih dari Anregurutta KH. Yunus Martan, mulai mendirikan dan membesarkan radionya, menunjukkan beliau memahami betapa pentingnya media komunikasi massa untuk menyampaikan dakwah Islam lebih luas. Radio merupakan salah satu media massa yang murah, mudah digunakan, dengan kemampuan menjangkau audiens yang tersebar luas. Dengan media massa, maka kabar gembira dan peringatan mudah disebarluaskan.


 


Hal tersebut sesungguhnya merupakan manifestasi dari tugas nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi. Membaca Al-Qur’an Surah Al-Kahfi 56, maka kita dapat mengetahui bahwa para asul Allah mengembang dua tugas esensial. Pertama, untuk membawa kabar gembira. Kedua, untuk memberi peringatan.


وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّا مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَۚ وَيُجَادِلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوْا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوْٓا اٰيٰتِيْ وَمَآ اُنْذِرُوْا هُزُوًا



Artinya, “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan; tetapi orang yang kafir membantah dengan (cara) yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak (kebenaran), dan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan apa yang diperingatkan terhadap mereka sebagai olok-olokan. (QS. Al-Kahfi 56)


Setelah para rasul tiada, siapakah pewarisnya kini? Rasulullah Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya menggambarkan bahwa ulama berperan sebagai ahli waris para nabi dan rasul. Dalam konteks itu, berarti ulama adalah pelanjut misi  nabi dan rasul untuk untuk membawa kabar gembira dan memberi peringatan. Tampaknya Anregurutta KH. Yunus Martan ingin sangat maksimal menjalankan misi ini sehingga sekaligus menjadi broadcaster/ wartawan.


Pada dasarnya, wartawan atau jurnalis pun mengembang misi yang sama. Wartawan berarti orang yang mewartakan atau mengabarkan. Wartawan adalah pembawa kabar, baik kabar gembira maupun peringatan. Dalam mengembang misi itu, jurnalis memiliki tugas pokok yaitu melakukan verifikasi.


Tugas verifikasi demi memastikan bahwa sesuatu yang dikabarkan wajib mengandung kebenaran, bukan hoaks (bohong). Kebenaran harus disampaikan meskipun terkadang itu pahit. Sehingga, boleh jadi yang disampaikan berupa kabar gembira (cara tabsyir) dan berita-berita yang bersifat ancaman (cara indzar).


Ulama dan jurnalis, keduanya sama-sama mengembang misi menyampaikan kabar gembira dan juga peringatan. Dan, Anregurutta KH. Yunus Martan mengawinkan keduanya sekaligus sehingga memiliki daya jelajah yang tinggi. Apa yang dilakukan Anregurutta menunjukkan totalitas dalam berdakwah. 


Anregurutta KH. Yunus Martan  juga sangat produktif dalam menulis. Puluhan kitab karangannya bertebaran, dan menjadi rujukan murid-muridnya. Beberapa kitabnya antara lain Kitabuttauhid (berbahasa Arab), Alhaditsul Mukhtaarah (berbahasa Arab), Kitabus Salat (berbahasa bugis), Kitab Faraid (berbahasa bugis) dan puluhan kitab lainnya.  Kitabus Salat merupakan salah satu kitab favorit masyarakat.


Anregurutta KH. Yunus Martan adalah ulama visioner yang disiplin memimpin gerakan pembaharuan Pesantren As’adiyah, juga seorang broadcaster, jurnalis dan penulis. Anregurutta telah menunjukkan kemampuannya melahirkan gagasan yang dampaknya luas dan melampaui zamannya. (*)


Penulis : Muannas, Broadcaster Celebes TV