Syeikh Yusuf Al-Makassary: Ulama, Pahlawan dan Penulis

ANREGURUTTA Haji (AGH) Syeikh Yusuf Al-Makassary (1626-1699) merupakan ulama asal Gowa Sulsel, cukup melegenda hingga namanya dikenal seantero dunia. Nama lengkapnya Syeikh Muhammad Yusuf Abul Mahasin bin Abdullah Tajul Khalwati al-Makassari.  Masyarakat Gowa memberi gelar Tuanta Salamaka. 


Syeikh Yusuf al-Makassari dilahirkan di Desa Moncong Loe, Gowa pada tanggal 3 Juli 1626 M bertepatan 8 Syawal 1036 H. Ayahnya bernama Abdullah merupakan seorang petani di Gowa. Sementara ibunya bernama I Tubiana Daeng Kunjung, putri kepala Desa Moncong Loe yang berdarah bangsawan Gowa. Memiliki hubungan darah dengan Sultan Karaeng Bisai.


Dalam catatan AGH. Sahib Sultan dalam buku Syekh Yusuf Al-Maqassary: Riwayat Hidup dan Ajarannya, terbit 2015, menuliskan bahwa Syekh Yusuf lahir, dididik dan dibesarkan dalam lingkungan kerajaan Gowa oleh Sultan Alauddin. Saat Yusuf lahir, kerajaan Gowa baru 23 tahun menerima Islam sebagai agama kerajaan dan masyarakat Gowa. Meskipun dibesarkan dalam lingkungan istana, Yusuf bergaul di luar istana bahkan realitas di luar istana membuka pandangannya dengan menyimak perbincangan di kalangan masyarakat terkait prihal kehidupan sosial mereka.   


Sejak kecil Syeikh Yusuf belajar agama seiring perkembangan Islam di Gowa yang mulai berkembang. Islam secara formal menjadi agama kerajaan Gowa setelah sang raja masuk Islam. Masyarakat dan kerajaan Gowa menganut Islam berkat dakwah pembawa Islam asal Minangkabau masing-masing; Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Patimang, Datuk Ri Tiro. Raja Gowa masuk Islam dengan gelar Sultan Alauddin 1605 M.  


Salah seorang guru mengaji Syekh Yusuf bernama Daeng ri Tamassang dikenal sebagai ulama di masyarakat sekitar. Setelah menguasai ilmu al-qur’an, Syeikh Yusuf kemudian mengaji kitab kuning kepada Sayyid Ba’alwi bin Abdullah al-Allamah at-Tahir, mencakup bidang; tauhid, fikih, hadis, akhlak dan bahasa Arab, termasuk nahwu sharaf. 


Sayyid Ba’alwi merupakan ulama yang mengajar di Pesantren Bontoala. Menurut Al-Allamah Nashirussunnah AGH. Muhammad Nur, dalam wawancara saya dengan beliau tahun 1995 menyebutkan bahwa Pesantren Bontoala di sekitar Masjid Raya Makassar itu merupakan pesantren pertama di Sulsel. Syeikh Yusuf al-Makassari adalah salah seorang santrinya. Pendapat al-allamah AGH. Muhammad Nur yang diperkuat sejumlah data lain. Ahmad Baso alumni Pesantren An-Nahdlah menjelaskan hal itu dalam buku Pesantren Studies, Pesantren Bontoala merupakan jaringan awal dalam sejarah pengembangan pesantren di Sulsel.


Setelah berusia 15 tahun, Syeikh Yusuf mengaji kitab kuning di Cikoang dibawah bimbingan Syeikh Jalaluddin al-Aidit, ulama asal Yaman yang pernah merantau ke Aceh dan Kutai, kemudian menetap di Cikoang. AGH. Sahib Sultan mencatat, pada tanggal 22 September 1644 Syekh Yusuf mulai meninggalkan Makassar dengan menumpang kapal Portugis menuju Banten. Beliau dengan berat hati meninggalkan istrinya bernama Sitti daeng Nisanga. Di Banten, Syekh Yusuf bertemu Abul Fath Abdul Fattah  bin Abul Ma’ali bin Abul Mufakir.  


Kemudian Syekh Yusuf melanjutkan pendidikannya ke Mekkah untuk mendalami ilmu-ilmu keislaman. Namun, sebelum berangkat ke Mekkah, Syeikh Yusuf dinikahkan dengan putri Sultan Alauddin, raja tertarik dengan keilmuan Syekh Yusuf. Dalam perjalanan ke Mekkah itu, sempat tinggal di Banten untuk belajar pada sejumlah ulama. Kemudian ke Aceh berniat berguru pada Syeikh Nuruddin ar-Raniri hingga mengikutinya ke India dan berbaiat Tarekat Qadiriyah. Syekh Yusuf juga belajar kepada Syeikh Umar bin Abdullah bin Sayban, salah seorang guru ar-Raniri.


Syekh Yusuf berburu tarekat hingga ke Yaman untuk berbaiat tarekat Naqsyabandiyah kepada Syeikh Muhammad ibn Abdillah al-Baqi an-Naqsabandi, selain itu juga berguru pada Syeikh Tajuddin al-Malqib tajul Arifin ibn Zakaria ibn Sultan Usman an-Nasyabandi. Syekh Yusuf kemudian berbaiat tarekat  Ba’alawiyah kepada Syeikh Sayyid Ali ibn Abu Bakar a-Zabidi di Yaman.


Kemudian Syeikh Yusuf menuju Mekkah menunaikan ibadah haji dan mengaji pada sejumlah ulama di kota haramaian. Kontribusi Syekh Yusuf diantaranya menyiarkan Islam dari Gowa, Sulsel sampai ke Afrika Selatan hingga wafat. Puluhan kitab karya beliau di antaranya; Ar-Risalah An-Naqsyabadiyah dan Kitab Safina an-Najah. Syekh Yusuf al-Makassari kemudian dianugerahi gelar Pahlawan nasional. (*) 


Sumber : Buku Anregurutta, Literasi Ulama Sulselbar


Penulis : Dr. Firdaus Muhammad, MA, Pengurus MUI Makassar