MUI Makassar Gelar Diskusi Publik Soal Fatwa Covid 19

MUI Makassar.id – Pandemi Covid 19 bukan hanya menjadi persoalan kesehatan semata, melainkan merembes ke berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk urusan ibadah dan keagamaan. Sejumlah pertanyaan pun muncul di tengah-tengah masyarakat tentang bagaimana seharusnya umat Islam bersikap terhadap situasi pandemi covid 19.

Untuk merespon hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan berbagai fatwa menyangkut sikap yang harus diambil umat Islam menyikapi wabah covid19. Beberapa fatwa MUI antara lain tentang vaksinasi, salat Jumat, salat berjamaah di masjid, salat virtual dan beberapa lainnya. Hanya saja, terhadap fatwa-fatwa tersebut masih banyak yang salah dipahami oleh umat Islam.

Untuk meluruskan sejumlah kesalahpahaman masyarakat yang muncul di tengah masyarakat, MUI Makassar menggelar diskusi publik di Hotel Horison Makassar, Kamis (19/8/2021). Diskusi publik MUI bertajuk Sosialisasi Fatwa MUI terkait Covid-19 dan Prosedur Penetapan Label Halal.

Ketua Panitia Dr.K.H. Abd Mutallib Abdullah M.A yang juga pimpinan Pondok Pesantren MDIA Bontoala mengatakan, diskusi publik ini bertujuan untuk kembali mensosialisasikan ke masyarakat sejumlah fatwa MUI tentang covid 19. Diakuinya, masih banyak yang salah paham mengenai fatwa MUI tentang covid-19.

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber masing-masing Direktur LPPOM MUI Sulsel H.Tajuddin Abdullah, Ketua Umum PB DDI AGH. Prof.Dr. Andi Syamsul Bahri M.A, dan Prof.Rusli Halib M.A, yang dimoderatori oleh Sekretaris mum MUI Sulsel Dr.Muammar Bakri Lc.M.A. Diskusi dihadiri masyarakat umum, akademisi, pengurus masjid, pondok pesantren, UKM/unit pengusaha-pengusaha Kota Makassar, serta pengurus Majelis Ulama kecamatan/kota.

Ketiga narasumber memberikan penjelasan sekitar 10 fatwa terkait covid-19 dan juga pembahasan jaminan kehalalan bagi setiap produk yang masuk di Indonesia agar wajib mendapatkan sertifikat halal. Beberapa penjelasan tersebut yakni menyangkut pelaksanaan salat Jumat dimana tidak dibolehkan Salat Jumat secara virtual, boleh meninggalkan salat Jumat boleh dan menggantinya dengan salat Dhuhur serta boleh salat Jumat dengan sistem shift.

Penjelasan lainnya adalah mengenakan masker saat salat hukumnya boleh. Juga dibolehkan salat berjamaah di masjid selama tidak berpotensi menimbulkan kerumunan dan bukan berada zona merah. MUI Makassar menghimbau, agar masyarakat tidak menerima dan tidak mudah terprovokasi lagi isu-isu negatif yang beredar liar (*).