KHAZANAH SEJARAH: Mendudukkan Pengertian Pluralisme dan Relativisme

Saya ingin memulai tulisan ini dari sebuah peristiwa kecil dari seseorang yang pertama kalinya menginjakan kaki di kota Balikpapan. Di kota ini dia tinggal di sebuah wisma bersama tiga temannya. 


Suatu hari ia ingin mencari keluarganya di Sepinggang, berjarak lima kilometer dari tempatnya. Ia kemudian bertanya naik kendaraan apa menuju ke sana. Temannya menjawab cukup naik mobil Petepete di pinggir jalan. Lama juga menunggu mobil Petepete, sampai merasa jengkel karena setiap ia bertanya dan semua orang menjawab tidak ada mobil Petepete, lalu ia bosan dan kembali ke penginapan. 


Akhirnya, temannya memberi tahu Petepete hanya ada di Makassar, tetapi di Balikpapan bernama Angkot. Kesalahpahaman membuat jengkel hanya karena perbedaan pengertian, padahal makhluk itu itu juga.


Tidak mudah memberi definisi, dalam ilmu Mantik yang kami pelajari sejak di S1. Di antara syarat definisi itu adalah harus syamil dan universal yang bisa diterima banyak orang, tidak seperti kisah pendek di atas.


Saya mencari kamus tentang perbedaan pluralis, pluralisme, dan pluralistis. Pluralis, yaitu kategori jumlah yang menunjukkan lebih dari satu atau lebih dari dua. pluralisme, yaitu keadaan masyarakat yg majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya), sedang pluralistis berarti banyak macam; bersifat majemuk: di Indonesia masyarakatnya serba (majemuk).


Wikipedia pun mendifinisikan pluralisme, terdiri dari dua kata plural dan isme yang berarti paham atas keberagaman. Secara luas, pluralisme merupakan paham yang menghargai adanya perbedaan dalam suatu masyarakat dan memperbolehkan kelompok yang berbeda tersebut untuk tetap menjaga keunikan budayanya masing-masing.


Menurut fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), pluralisme agama adalah paham yang menganggap semua agama adalah sama. Dalam pandangan MUI, paham ini sangat berbahaya, sesat dan menyesatkan bagi umat Islam. 


Oleh karena itu, MUI mengharamkan pluralisme agama dan melarang umat Islam  menganut paham ini. Substansi makna fatwa MUI, saya sependapat tetapi apa yang definisi pluralisme yang dilabelkan MUI sesungguhnya dalam dunia filsafat disebut relativisme yang menganggap semua agama sama. Relativisme, agama apa pun di Indonesia akan menolaknya sebab boleh jadi orang beranggapan  tidak perlu beragama.


Dalam sebuah Annual International Conference for Islamic Studies ke-4 yang dilaksanakan di PPs UIN Alauddin Makassar tahun 2005. Sebagai pelaksana sengaja bertemu dengan Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ. yang sengaja diundang bersama pembicara dari luar negeri lainnya. Saya bertanya pada beliau sebagai Guru Besar filsafat tentang pluralisme agama. Beliau juga membedakan antara pluralisme dan relativisme. "Pluralisme beda dengan relativisme," katanya. 


Berbeda dengan definisi MUI yang menyamakan pluralisme dengan relativisme. Menurut beliau relativisme beranggapan semua agama benar. Di sini seseorang dengan mudah berpindah-pindah agama karena sama saja semua agama. Jika ini yang terjadi, maka tidak ada artinya beragama. Sedang pluralisme agama adalah pengakuan terhadap eksistensi semua agama dalam hidup bermasyarakat. Pengakuan terhadap keberadaan masing-masing agama dalam masyarakat plural disebut pluralisme agama. Pengakuan itu terbatas pada eksistensi dalam pergaulan bukan mengakui keyakinanya. Itulah yang berlaku dalam NKRI, bukan relativisme agama melainkan pluralisme agama. 


Kepada siapa saja dalam masalah muamalah kemasyarakatan seorang muslim bisa belajar bahkan ke negeri Cina sekali pun, seperti kata Imam Syafii,


والله ماابالى أن يظهر الحق على لسانى او على لسان خصمي


(Saya tidak peduli apakah kebenaran itu lahir dari lisanku atau dari orang lain.) 


Baca الصحوة الاسلامية oleh Prof. Dr. Yusuf al-Qardawi.


Saya harap pada teman-teman ahli filsafat menanggapinya untuk kebaikan bersama,


berhubung saya memiliki keterbatasan dalam pengetahuan filsafat والله أعلم.


Wasalam, 


Penulis : Prof.Dr.Ahmad M.Sewang,M.A, Guru Besar UIN Alauddin Makassar