In Memoriam AGH. Dr. (Hc) Sanusi Baco Lc

Gerimis malam itu, tepat tanggal 4 April 2017 mengiringi kunjungan silaturahim sejumlah sahabat dan santri saat bersilaturahim dengan Anregurutta Dr (Hc). Anregurutta AGH. Sanusi Baco, Lc. Kehadiran para tamu untuk menghadiri tasyakuran 80 tahun AGH. Sanusi Baco. Kemudian esoknya, beliau ke Jakarta memenuhi undangan Presiden Jokowi.


Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami, Dr. H. Muammar Bakri,  menyebutnya, undangan ke istana oleh presiden tersebut merupakan kado ultah 80 tahun beliau. Meskipun pertemuan beliau dengan Presiden Jokowi bukan kali pertama, bahkan Jokowi, sebelum terpilih presiden, pernah berkunjung ke kediaman beliau di Jalan Kelapa tiga, Makassar. 


AGH. Dr. (Hc) Sanusi Baco Lc dilahirkan di Maros, 4 April 1937. Beliau merupakan sosok ulama kharismatik. Perjalanan hidupnya penuh suka dan duka. Sebagai kelanjutan dari kisah sebelumnya. Hidup dalam kesederhanaan tidak membatasi mewujudkan cita-citanya menuntut ilmu. Saat masih SR harus berjalan kaki dua belas kilometer setiap hari. Selain itu, sepulang sekolah turut membantu orang tua bertani dan mengembala serta berjualan berkeliling kampung.


Di usia yang masih belia, beliau tiba-tiba ditinggalkan ibu tercinta, Besse daeng Ratu yang berpulang ke rahmatullah. Hidup tanpa kasih sayang ibu kelahirannya menjadikan kisah hidupnya kian pilu bersama saudara-saudaranya yang lain. Baco daeng Naba, sang ayah kemudian mengirim AGH. Sanusi Baco ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan dengan alasan ada keluarga terdekat.


Suasana Makassar tahun 1950-an belum terlalu ramai. AGH. Sanusi Baco diterima sebagai salah satu santri di Pesantren DDI Galesong Baru (Galbar) dan tinggal di Jalan Dakwah, Makassar.  Pesantren DDI Galbar didirikan AGH. Abdurrahman Matammeng. Saat menjadi santri di DDI Galbar tersebut, AGH. Sanusi Baco didik langsung AGH. Amin Natsir yang acapkali memintanya mengambil bekas gergaji untuk dipakai memasak.


Selain menjalani aktivitas sebagai santri DDI Galbar, beliau juga seringkali membantu kakeknya yang berjualan bambu. Dikisahkan, suka duka berjualan bambu itu masih diingat jelas oleh gurutta, kala itu bambu diangkut dari Pasar Pannampu ke Pasar Kalimbu melalui Pasar Cidu di Jalan Tinumbu yang masih sepi dan masih bisa menikmati suara burung yang bertengker di hutan sepanjang jalan. Sejak kecil diajari hidup mandiri di tengah kehidupan yang tidak berkecukupan.


Selain berjualan bambu bersama kakeknya, juga sempat membantu paman untuk menyetrika pakaian langganannya, gurutta memiliki keterampilan menyetrika pakaian hingga empat puluh lembar dengan menggunakan arang dan pengalaman itu menjadikan gurutta menyetrika pakaiannya sendiri hingga kini. Selain itu, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, setiap libur, beliau juga menjual buah-buahan seperti nenas yang sudah dikemas di sekitar Galbar.


Kemudian Baco Daeng Naba sang ayah mengirim anak kesayangannya ke Pesantren DDI Mangkoso awal tahun 1950-an setelah beberapa tahun mukim di Makassar. Di Pesantren DDI Mangkoso, AGH. Sanusi Baco belajar banyak hal. Selain mengaji kitab kuning pada AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, pendiri Pesantren DDI dan AGH. Amberi Said dan sejumlah ulama DDI lainnya, beliau juga berorganisasi. Hal paling terkesan selama memimpin organisasi yang sebelumnya dijalani melalui pelatihan khusus.


Kala pasukan Usman Balo menyerang Mangkoso hingga Tonronge dengan membakar perkampungan hingga hangus serta ratusan mayat bergelimpangan. Saat itu AGH. Sanusi Baco bersama rekan-rekan turut membantu aparat hingga kondisi normal kembali.


Beliau mendapat amanah sebagai salah satu rais syuriah PBNU, Ketua MUI Susel, Pengurus PB. DDI, dan Pendiri Pesantren Nahdlatul Ulum, Maros. Beliau sosok ulama kharismatik dengan totalitas hidup berdakwah. Latar belakang pendidikan, menempuh sekolah dasar di Maros kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk mengaji kitab kuning di pesantren DDI Mangkoso yang diasuh langsung AGH. Abdurrahman Ambo Dalle dan AGH. Amberi Said serta topanrita lainnya. AGH. Sanusi Baco mengaji kitab di Pesantren Darud Da’wah wal-Irsyad (DDI) Mangkoso selama 8 tahun.


Pengalaman belajar di DDI Mangkoso Barru selama 8 tahun memberi warna dalam kiprah hidupnya terutama bekal keilmuan. Pengalaman belajar pada AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, AGH. Amberi Said, dan sejumlah guru lainnya memberi kesan bahwa ilmu yang diperolehnya hanya separuh dari kitab atau buku yang dipelajari, separuhnya lagi belajar pada keteladanan ulama.


AGH. Sanusi Baco mengisahkan ihwal keteladanan AGH. Amberi Said yang istiqamah menghabiskan seluruh pikiran dan kesibukannya semata hanya mengurus santri Pesantren DDI Mangkoso. Setiap shubuh tak pernah absen menjadi imam selama puluhan tahun hingga beliau wafat. Sementara AGH. Sanusi Baco bertugas sebagai tukang adzan.


Selain itu, dalam penuturan AGH. Sanusi Baco ihwal kedisiplinan AGH. Amberi Said. Setiap pagi mengelilingi setiap kelas. Jika ditemukan ada kelas kosong karena ustadnya terlambat maka beliau yang mengisinya hingga jam pelajaran berakhir meskipun sang ustad telah hadir. Keteladanan ulama itulah yang mengilhaminya untuk senantiasa mewarisi keilmuan dan akhlak para ulama tersebut.


Setelah menamatkan pendidikan di Pesantren DDI Mangkoso, AGH. Sanusi Baco kemudian kuliah di Fakultas Syariah Universitas Muslim Indonesia (MUI) Makassar, tepatnya di Kampus I Jalan Kakatua. Saat itu, Rektor UMI dijabat Prof. Dr. Abdurrahman Shihab, seangkatan dengan Prof. Dr. H. Shaleh Putuhena, mantan Rektor UIN Alauddin Makassar. Keterbatasan fasilitas kampus dan jumlah mahasiswa juga sedikit sehingga tidak jarang kuliah di rumah dosen.


Mahasiswa mendatangi rumah dosen untuk kuliah merupakan tradisi kala itu. Sejumlah dosen tersebut adalah umumnya ulama kenamaan. Sebut misalnya, AGH. Abdurrahman Matammeng, AGH. Muhammad Nur. Sejumlah mahasiswa bersepeda, hanya Prof. Dr. H. Umar Shihab yang memiliki motor. 


Kemudian AGH. Sanusi Baco yang menjadi pendiri PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) di Sulsel, mendapat rekomendasi atas nama organisasi tersebut dan beasiswa kuliah di Universitas Al-Azhar, kairo, Mesir pada tahun 1963. Beliau berangkat atas rekomendasi KH. Zaifuddin Zuhri selaku Menteri Agama, kala itu. Perjalanan ke Mesir ditempuh selama sebulan melalui jalur laut. Beliau berangkat bersama dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Mustafa Bisri (Gus Mus).


Sepanjang perjalanan itu, AGH. Sanusi Baco berinterkasi intes dengan Gus Dur, termasuk mengenal NU dari cucu KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU itu. Selama di Mesir, selain aktif kuliah, juga dikenal sebagai aktivis kemahasiswaan bersama Gus Dur dan Gus Mus. Sepanjang kuliah selama 4 tahun itu, juga aktif di organisasi mahasiswa seperti HPPI dan KMNU, beliau berhasil meraih sarjana bergelar  Lc. Niat untuk lanjut S2 kandas akibat gejolak perang antara Mesir dan Israel tahun 1967.


Bahkan beliau pernah mendaftar sebagai pejuang Palestina menghadapi Zionisme Israil, tapi batal berangkat. Setelah meraih gelar Lc di Al-Azhar, beliau berencana melanjutkan hingga jenjang S2, tetapi situasi di Timur Tengah sementara bergejojak itu, akhirnya diminta kembali ke tanah air.


Beliau memilih mukim di Makassar atas ajakan Hadji Kalla untuk bersama-sama mengurus umat, khususnya membina Masjid Raya Makassar. Beliau mempersunting, Dra. Hj. Aminah tahun 1968, lalu tinggal di Jalan Pongtiku tahun 1976 kemudian tinggal di Jalan Kelapa III Makassar, tinggal satu komplek dengan 8 anak serta para cucu yang sangat dicintainya.  


Hj. Aminah merupakan gadis pujaan AGH. Sanusi Baco yang dikenalnya sejak masih sama-sama di Mangkoso, meski berjalan singkat. Aminah memilih melanjutkan sekolah di Makassar hingga kuliah. Sebelum ke Mesir, hubungan keduanya tetap terjalin baik. Nyatanya beliau telah menaruh hati pada sang gadis, bukan pacaran, tetapi perasaan cinta telah tumbuh di lubuk hati keduanya hingga beliau ke Mesir. Selama di Mesir, Aminah sesekali mengirim surat dan AGH. Sanusi Baco yang mahasiswa kala itu, juga membalasnya. Ketika selesai kuliah di Mesir, keduanya melangsungkan pernikahan.


Beliau memiliki jiwa penyayang, terutama pada anak-anak, baik anak dan cucunya dan juga anak-anak pada umumnya. Suatu ketika dalam perjalanan dari Jawa kembali ke Makassar, seusai menghadiri acara Muktamar NU. Di kapal laut, saat tengah malam, tiba-tiba terdengar suara anak kecil menangis. Beliau bangun lalu mencari suara anak yang menangis dan meninggalkannya setelah anak itu tidur kembali, demikian dikisahkan AGH. Muh. Harisah AS, saat keduanya bersama-sama dalam kapal tersebut.


Saat penulis bersilaturahim ke rumah beliau bersama keluarga, tiba-tiba anak saya menghampiri akuarium dan menikmati ikan hias, saya hendak melarangnya lalu beliau justru menemaninya. Beliau kemudian menasehati, usia kanak-kanak itulah usia paling jujur. Mereka melakukannya sesuai kata hatinya, bukan pencitraan.


Selain itu, beliau selalu menasehati soal nilai semisal, AGH. Muh. Harisah AS bersama keluarga sepanjang hidupnya, senantiasa berziarah ke rumah beliau setelah berziarah ke AGH. Mustafa Nuri gurunya. Bagi AGH. Sanusi Baco, itu nilai silaturahim tetap harus dijaga sekalipun pak kiai telah wafat, tetapi harus dilanjutkan anak cucunya.


Sepanjang karir akademiknya, pernah aktif menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi di Makassar. Tercatat sebagai dosen tetap di Fakultas Syariah IAIN-UIN Alauddin Makassar, Dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan Al-Ghazali, kini Universitas Islam Makassar (UIM). Pengabdiannya di dunia akademik, tidak hanya sebatas mengajar tetapi terlibat di birokrasi kampus. Penghargaan atas keilmuannya, beliau diberi gelar Doktor Honorius Causa pada 20 Desember 2012 di UIN Alauddin Makassar.  Selain aktif berdakwah, beliau aktif berorganisasi sejak mahasiswa hingga kini. Aktif di PMII, NU, dan MUI. Turut memprakarsai Pendidikan Kader Ulama (PKU). Tahun 2001 beliau mendirikan Pesantren Nahdlatul Ulum Maros. Prinsip hidupnya, kekayaan ulama bukan uang tapi umat.


Beliau sosok ulama kharismatik dengan totalitas hidup berdakwah. Kecintaannya pada umat demikian besar, ketika dirawat dan dioperasi di RS Harapan Kita di Jakarta tahun 2008, beliau masih sempat menghubungi panitia salah satu masjid di Soppeng karena berhalangan hadir. Beliau tidak pernah menolak undangan termasuk takziyah di lorong dan penampilannya sama ketika menghadiri acara pejabat.


Keteladanan AGH. Sanusi Baco tercermin dari satunya kata dan perbuatan. Sikap amanah dalam menjalankan tugas tercermin dari tanggungjawabnya sebagai Ketua Umum Yayasan Masjid Raya Makassar, setiap jumat beliau hadir salat di masjid tersebut, demikian halnya sepanjang Ramadan aktif salat tarwih 20 rakaat dan shubuh berjamaah saat usianya menginjak 80 tahun sekalipun. Aktif sebagai Ketua Umum MUI Sulsel menggantikan AGH. Muin Yusuf dan aktif di NU sejak mahasiswa hingga menjadi pengurus di jajaran Syuriah di PBNU dan Rais Syuriah NU Sulsel. Diantara kontribusi beliau bersama jajaran pengurus NU Sulsel lainnya, yakni gedung NU yang cukup megah, selain sebagai Pembina di Yayasan Al-Ghazali yang menaungi UIM yang merupakan perguruan tinggi kebanggaan NU.(*)


Sumber : Buku Anregurutta, Literasi Ulama Sulselbar


Penulis, Dr. Firdaus Muhammad, MA, Pengurus MUI Makassar